Posts

Showing posts with the label cerpen

Kelakuan Pegawai

Image
(Serial Ahmad 13) Gambar:tirto.id Sebulan sekali kelompok miskin di BT mengadakan pertemuan kelompok. Kumpul bersama antara sesama penerima bantuan dan pegawai yang ditugaskan untuk mendampingi. Pertemuan kelompok merupakan kesempatan untuk edukasi dan pendampingan dalam bidang: pendidikan, ekonomi, kesehatan maupun perlindungan sosial. Kesempatan untuk tranfer pengetahuan dan keterampilan.  Masyarakat akan diberitahu kalau belum tahu, dilatih kalau belum cukup keterampilan. Momen untuk membagi keberhasilan yang sudah diperoleh dalam kehidupan, baik sebagai masyarakat miskin maupun sebagai pendamping.  Itu tujuan pertemuan yang disampaikan oleh pendamping kepada semua anggota penerima bantuan di BT saban hari. Namun tujuan itu kemudian dilanggar kembali oleh pendamping.  Bukan barang baru, pikir Ahmad. Semua pegawai (pemimpin) kelakuannya memang begitu. Amnesia. Apa yang disampaikan kemudian dilanggar kembali. Mereka yang menetapkan keputusan, me...

New Normal

Image
(Serial Ahmad 12) Dokpri: KPM PKH Desa Wolomeze II Sekelompok orang berdiskusi tentang hal yang asing ditelinganya, new normal. Mereka berdiskusi di Bank, tempat Ahmad mengambil bantuan kemarin.  Mereka ini datang dari kelas yang berbeda. Menggunakan pakaian yang bagus, sepatu yang tidak pernah terlihat jual di pasar desa. Ditambah ransel yang dikenakan, mungkin senilai bantuan untuk sepuluh orang.  Dari Penampilan, terlihat mereka kaum terdidik. Wajar kalau bahan diskusinya hanya dimengerti oleh sesama mereka sendiri. Kehadiran mereka sangat menarik perhatian orang desa yang baru sesekali ke kota.   Walau lebih banyak tidak memahami yang didiskusikan, diam-diam Ahmad menguping diskusi tersebut.  Tidak semua sepakat dengan new normal. Yang tidak setuju khawatir akan serangan pandemi tahap 2. Mereka merujuk pada peristiwa flu Spanyol 1918. Sejarah memang mencatat, wabah susulan di negeri dengan julukan Matador memang lebih berbahaya, memaka...

Berlabuh di Kios

(Ahmad seri ke-11) "Ahmad, besok kita berangkat ke Bank, bantuan sudah masuk. Sudah bisa pencarian!" Marta, ketua kelompok penerima bantuan di BT menyampaikan informasi itu sore tadi. Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu datang juga. Bantuan untuk bulan ini sudah masuk. Syukurlah, ada dana untuk menunjang kebutuhan bulan ini.  Ahmad sudah mempersiapkan diri sejak subuh besoknya. Ia bergabung bersama sebagian besar rombongan berangkat mengunakan taxi. Pilihan yang paling terjangkau bagi masyarakat di BT. Bersama dengan mereka, ada sebagian penerima bantuan memilih transportasi ojek. Tentu pilihan yang sangat boros, pikir Ahmad.  Dengan taxi mereka hanya membayar Rp.40.000,- untuk biaya pergi pulang, sedangkan dengan ojek harus membayar Rp.100.000,-. Belum lagi harus menanggung biaya makan tukang ojek. Semua itu akan bersandar pada uang bantuan. Bisa dibayangkan kalau mereka mendapat bantuan senilai Rp.600.000,- apabila dikurangi sewa ojek dan biaya makan sebes...

Bermula di Sawah

Serial Ahmad (10) BT akhir-akhir ini kembali ramai. Bukan karena berkat hari panen, tetapi masalah bantuan. Semua orang ramai mengomentari hal tersebut. Ibarat komentator sepak bola, mereka selalu lebih jago dari pemain untuk mengalisa dan membaca peluang. Padahal pemain sudah berjuang sekuat tenaga di lapangan bola. Lagian, informasi yang dikomentari belum tentu akurat.  Kemampuan komentar ini nyata dalam masyarakat BT. Mereka memanfaatkan waktu panen dan sawah Ahmad sebagai tempatnya, waktu dan tempat untuk beraksi.  "Syukur ew, ada Corona, kita bisa dapat bantuan 600.000/bulan," kata Ahmad kepada Anton.  "Ia, syukur yang macam kamu punya keluarga itu," potong Anton ketus. "Kalian enak, sudah dapat bantuan Program Keluarga Harapan, dapat lagi beras dari pemerintah, sekarang kamu punya nama muncul lagi untuk dapat bantuan Corona," sambung Anton. "Siapa yang mau dapat Corona, Anton? Kau tidak lihatkah saya ada pakai masker untu...

Bantuan

"Ada hikmah dibalik persoalan," itulah yang dirasakan Ahmad sekarang. Bulan lalu ia sempat terpukul karena di kategorikan "keluarga prasejahtera/miskin."  Barusan ia mendapat berita gembira dari ketua RT. Keluarga Ahmad berhak  mendapatkan bantuan. Paket lengkap pula. Ada beras, telur dan uang.  Ahmad bingung. Kok bisa ya? Tetapi Ahmad percaya berita ini, soalnya saat berada di pasar, sempat menguping pembicaraan orang-orang besar di BT. Mereka membahas bantuan untuk keluarga prasejahtera/miskin.  "Saat ini konsentrasi pembangunan harus diarahkan pada masyarakat prasejahtera/miskin. Mereka harus dibantu mulai dari biaya sekolah, biaya kesehatan juga jaminan bagi lanjut usia dan orang cacat"  demikian pembahasan orang-orang besar di warung pasar.  Mungkin ini era kejayaan kaum miskin. Mungkin juga doa yang terkabul pada perayaan Natal kemarin. Hidup orang miskin!!!😀😀😀 Paling kurang ada yang peduli pada kesusahan Ahmad dan orang misk...

Kalimantan

Ahmad (9) Ahmad sudah tidak kuat dengan kelakuan Dorkas. Sampai dengan saat ini, belum juga ada jawaban. Itu berarti ia kukuh dengan judul tulisan tugas akhirnya, "faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat BT tidak menjalankan ritus mengusir belalang." Tentu ini penghinaan, pikir Ahmad. Sesungguhnya saya tidak rela kalau semua pengorbanan selama ini berakhir seperti ini. Sebenarnya apa yang kurang nak? Bapak sudah melakukan yang terbaik untukmu. Termasuk bapak harus menjual murah lahan sawah, untuk membiayai uang semester.  Ahmad terus memikirkan hal tersebut setiap hari. Hatinya selalu bergejolak kalau soal ini melintas di dalam pikirannya.  Akhirnya Ahmad sampai pada keputusan. Merantau. Tapi kemana? Bagaimana caranya? Ahmad juga tidak tahu. Tapi, ini keputusan, saya mesti melakukannya.  Kalimantan adalah pilihan terkuat. Banyak orang membicarakannya. Banyak juga kisah sukses perantau dilukiskan disana. Dengar-dengar banyak orang migras...

Tugas Akhir

Serial Ahmad (7) Ada banyak kisah sedih tercipta ketika berurusan dengan tugas akhir. Juga, ada banyak korban. Mulai dari gagal kuliah. Gagal menikah. Sampai ada upaya intimidasi.  Namun kisah ini tidak pernah berakhir, tamat. Selalu terjadi setiap tahun. Korbannya sudah pasti mahasiswa semester akhir.  Kelompok yang mau tidak mau harus mengambil pilihan ini. Bahkan wajib kalau mau mendapatkan ijazah.  Dorkas juga sedang berada disini sekarang. Semester akhir ilmu sosial. Sebenarnya tidak sulit. Dorkas sudah memulai. Dosen pendamping juga sudah sepakat. Paling tidak dibuktikan dengan persetujuan mengikuti ujian proposal.  Masalahnya justru terjadi dengan Ahmad, Ayahnya. Ia tidak sepakat anaknya, menulis tugas akhir yang tidak menarik.  Setidaknya dalam ukurannya sebagai petani yang rajin berdiskusi dan menonton berita. Judul yang diangkat Dorkas adalah "Faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat BT tidak melakukan ritus mengusir ...

KARTU NAMA

Serial Ahmad (6) "Apa engkau tahu ini Ahmad?" tanya Elvis sambil menunjuk kartu namanya.  "Tidak El," Jawab Ahmad.  "Ah masa barang ini saja tidak tahu?" "Ia biasalah petani. Biasa saja. Yang tidak biasa kalau ditanya pacul dan saya tidak tahu." "Ini Kartu nama, Mad. Pernah mendengar sebelumnya? Semua hal tentang saya akan tertera disini. Yang paling penting orang akan tahu bahwa saya seorang sarjana hukum. Bicara tentang hukum saya jagonya. Teori dan praktek."  "Termasuk menghukum dirimu sendiri untuk nganggur?" Apa gunanya engkau kuliah, pakai buat kartu nama lagi!" Sela Ahmad "Jangan sembarang bicara ya! Ada dua hal berbeda yang kau sebutkan Mad."  "Ah dasar sarjana Hukum, banyak cincau. Ngomong doang."  "Kartu nama adalah identitas. Menganggur adalah pilihan." Sela Elvis dengan nada yang semakin tinggi.  "Mad, zaman sekarang kartu nama it...

Bunglon

BT akhir-akhir ini heboh. Ada berita baru, bunglon. Kadal yang hanya dikenal masyarakat dalam pelajaran biologi di sekolah. Yang bisa berubah warna sesuai dengan tempat ia berpijak.  Hari ini mereka mau menyaksikan kebenarannya. Ini semua berkat Ahmad. Secara tidak sengaja Ahmad menemukannya dikebun.  Masyarakat berbondong-bondong kerumah Ahmad. Rumahnya banjir pengunjung. Mereka kelihatan bahagia berada disitu.  Masyarakat terpesona dengan bunglon. Saking terpesonanya, tidak mempedulikan sedang berada dirumah yang hanya berlantaikan tanah dan berdinding pelupu. Rumah yang penuh dengan penderitaan.  Juga tidak pusing dengan jamuan sederhana, kopi pahit. Kopi tanpa gula. Hidangan ini memang tidak biasa. Walau mereka adalah "peminum kopi bukan penikmat kopi" mereka tidak pernah mau minum kopi tanpa gula.  Kopi ya....harus manis. Wajib dengan gula.  Semua karena bunglon. Daya tariknya menghipnotis masyarakat BT. Untuk sementara mereka...

Keputusan

Perkara uang adalah urusan nurani. Banyak orang diuji nuraninya disini.  Benar kata Rhoma Irama, "rupiah adalah raja dunia." Dengan rupiah, apa saja bisa dilakukan dikolong langit.  Banyak orang yang mengorbankan nurani karena uang. Kali ini, Ahmad terpaksa melakukan. Ahmad berani melawan nuraninya. Itupun demi perkara kecil. Menjadi kelompok miskin yang menerima bantuan.  Keputusan ini sesegera mungkin ia ambil karena desakan bapak RT. Lebih dari itu, desakan kekurangan/kemiskinan. Memang Ahmad satu-satunya yang masih mempertimbangkan menjadi penerima bantuan. Yang lain malah sudah bilang ya.....sedari awal.  Mengambil jeda waktu adalah pilihan tepat. Memperhitungkan semua akibat sedini mungkin. Termasuk mengkhianati nurani.  Toh saya bukan satu-satunya pengkhianat.  Kabar tersebut ia dengar dari Dorkas. Anak semata wayang yang sedang kuliah. "Banyak orang-orang besar juga mengkhianati nurani. Mereka yang pada awal menjanjikan...

TAHUN BARU di BT

"Berhubung tahun baru maka kita mesti merencanakan apa yang akan dilakukan 2020" demikian Ahmad membuka diskusi bersama keluarga. 2019 menjadi pembelajaran bersama untuk menata 2020.  Banyak hal harus diperbaiki 2020. Orang-orang di kota menyebutnya resolusi. Semacam rencana tahunan. 😀 Walau perayaan tahun baru di BT biasa saja tetapi harus ada hal berbeda yang dilakukan keluarga.  "Dirumah pelupuh ini kita mesti memutuskan apa saja yang harus kita lakukan 2020."  Ahmad melanjutkan "Sebagai kepala keluarga saya menginginkan keluarga ini menjadi driver/sopir bukan passenger/penumpang." Kali ini, dengan kenekatan Ahmad mengutip Rhenald Kasali dalam buku Self Driving.😀😀 "Menjadi sopir merupakan sebuah sikap untuk memimpin diri/drive yourself kearah yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Yang harus keluarga ini hindari adalah mental sebagai penumpang. Selalu menunggu perintah. Minim inisiatif. Tidak peka." Lanjut Ahmad sembar...

Ahmad dan BPS

Saat Natal Ahmad mengunjungi rumah adiknya Alam. Ada hal serius yang harus didiskusikan. Kebetulan warga BT juga ramai membahasnya.  Berkaitan dengan status keluarga mereka. Data keluarga pra sejahtera atau miskin. Keluarga Ahmad dan Alam di kelompokkan sebagai keluarga pra sejahtera atau miskin. Kategori ini dibuat oleh sebuah lembaga. Masyarakat menyebutnya, Badan Penilai Sesama (BPS). 😀😀😀 Penilaian ini berdasarkan beberapa pertimbangan: mereka tinggal dirumah yang masih berdindingkan pelupu, berlantai semen. Tidak memiliki WC. Sumber Air minuman dari sungai.  Petugas BPS juga menanyakan berapa kali sehari kedua keluarga ini makan? Apa sumber penerangan utama didalam rumah?  Masih banyak lagi pertanyaan yang kebanyakan dijawab tidak ada atau tidak memiliki. Mereka dituntut menyampaikan yang sebenarnya kepada petugas. Perkara data orang kecil memang jujur.  Jawaban mereka menjadi pijakan Badan Penilai Sesama memberi skor. Kedua keluarga in...