PENJAJAHAN MODEL BARU
![]() |
| Dokpri |
Pandangan ini lahir dari asumsinya berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada aktivitas kami dua tahun terakhir. Bagi yang belum mengetaui kegiatan kami, perlu saya informasikan bahwa saat ini kami sedang bergerak dengan program SCPP.
Program SCPP mengunakan dana hibah dari pemerintahan AS. Program ini di Indonesia masuk melalui kementerian dalam negeri yang dalam pelaksanaan ditenderkan pada NGO. Pada saat ini NGO yang menagani program SCPP adalah konsorsium yang terdiri atas swiss cotack dan Recolto.
Program SCPP bergerak untuk dua isu yaitu isu pemanasan global dan isu peningkatan pendapatan rumah tangga masyarakat. Singkat cerita pada program ini masyarakat diberdayaakan untuk menanam, merawat kakao. Sehingga kakao tersebut akan menjadi sumber pendapatan masyarakat. Selain itu upaya petani menanam, merawat kakao adalah bagian dari tindakan mengurangi pemanasan global saat ini.
Menurut teman saya program ini adalah bagian dari penjajahan model baru dengan kami sebagai buruh. Dasar argumentasinya adalah, secara nasional Indonesia bukan negara yang membutuhkan biji kakao sebagai bahan industri pangan. Indonesia hanya pemasok biji kakao. Ini adalah kebutuhan dari industri negara barat termasuk AS sebagai pemberi dana.
Selain itu, warga negara Indonesia tidak termasuk negara pengkonsumsi coklat terbanyak dunia. Masyarakat Indonesia hanya sebagian kecil dari masyarakat dunia pengkonsumsi coklat.
Dengan demikian kami dan petani-petani kakao dampingan adalah bagian dari buruh model baru. Apa yang kami lakukan adalah untuk memenuhi kebutuhan produksi coklat di Eropa dan Amerika.
Saya sendiri tidak menafik tuduhan tersebut. Saya hanya memberikan sudut pandang yang berbeda terhadap program ini. Sudut pandang ini yang kemudian memghantarkan saya pada kesimpulan bahwa kami bukan buruh model baru.
Sebagai pelaksana program saya dan petani dampingan merasakan banyak manfaat dari program ini. Program SCPP telah menghantarkan kami untuk melihat kakao sebagai salah satu potensi ungulan dari petani Indonesia umumnya, Flores kususnya.
Progrm SCPP membuat petani memperoleh peningkatan pengetanuan lewat belajar kakao dilapangan atau dalam program disebut sebagai sekolah lapangan (SL). Penerapan SL juga dapat membuat petani memperoleh peningkatan produksi. Petani kemudian dapat menjual biji kakao dalam jumlah yang banyak. Sebagai staf lapangan saya juga memperoleh transfer yang sesuai dengan kerja.
Hal-hal ini hemat saya menunjukan bahwa peserta program dan pelaksana program SCPP bukan korban perjajahan model baru. Tidak ada indikasi pihak pendonor lebih untung dari petani. Begitupun sebaliknya. Yang ada justru sebuah hubungan yang saling menguntungkan.

👍 bukan "buruh" namanya jika kita juga memotivasi para petani utk SADAR akan pengembangan kakao... Bukan tdk mungkin, Indonebukabukan sj produsen biji kakao, tetapi pusat product coklat (makanan) nantinya...
ReplyDelete